Asep#

Overview#

Basic Background#

What was your life before adventuring? Sebelum menjadi pengelana, Asep adalah salah satu war-seraph, malaikat perang buatan yang diciptakan oleh ilmuwan mortal untuk menjadi benteng ilahi di era keputusasaan. Ia dibesarkan bersama saudara kembarnya, Felix Quillon, oleh seorang ilmuwan wanita yang menjadi ibu mereka bernama Rem. Sang ilmuwan memperlakukan mereka bukan sebagai senjata, melainkan sebagai anak-anaknya sendiri — mengajarkan keduanya tentang nilai hidup, kasih sayang, dan makna kedamaian. Namun dunia di sekitar mereka justru semakin haus perang.

What is your biggest regret or failure? Tragedi itu datang ketika Felix, yang sudah lama kecewa pada mortal, dalam kemarahan yang tidak terkendali tak sengaja membunuh ibunya yang berusaha melindungi mortal dan menghentikan Felix di depan Asep. Felix yang melihatnya terkejut dan lebih marah dari sebelumnya. Asep yang melihat itu, dalam ledakan emosi dan kemarahan, Asep kehilangan kendali atas kekuatannya. Ia mengamuk dan menghancurkan segalanya, membunuh sesama war-seraph dan mortal tanpa bisa menghentikan dirinya sendiri. Sejak hari itu, Asep bersumpah tidak akan pernah lagi menggunakan kekuatan untuk membunuh — bahkan jika itu berarti melawan takdirnya sendiri. Ia menyebut peristiwa itu sebagai “Hari Sayap Terbakar.”

What is your greatest accomplishment? Bertahan hidup setelah kejatuhan bangsa war-seraph adalah keajaiban tersendiri. Asep bangkit dari reruntuhan, kehilangan sayap dan tujuannya, namun memilih untuk hidup — tidak lagi sebagai malaikat perang, tetapi sebagai pengrajin dan penyembuh. Dengan tubuh yang dipenuhi bekas luka logam dan sihir, ia sekarang menggunakan ilmu artificer dan wizardry untuk memperbaiki dunia, bukan menghancurkannya.


Character Motivation (Why You Adventure)

What do you seek? Asep mencari saudara kembarnya, Felix Quillon, yang kini memimpin sisa war-seraph sebagai dewa perang baru. Asep ingin membuktikan pada Felix — dan dirinya sendiri — bahwa kedamaian sejati dapat dicapai tanpa darah, bahwa kekuatan bukan hanya alat untuk membunuh. Ia tidak ingin membunuh Felix, melainkan menyelamatkannya dari kebencian yang dulu juga hampir memakan dirinya.

What are you running from? Asep melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya — dari keputusasaan, dari rasa bersalah karena telah menjadi monster, dan dari takdir yang telah ditulis untuknya: menjadi senjata terakhir untuk mengakhiri Felix. Setiap malam, dalam mimpi, ia masih melihat wajah ibu mereka di antara kobaran api. Dan juga kabur dari bounty Hunter, dikarenakan dia terkena bounty akibat kekacauan yang dibuat saat di bumi hanya demi menyelematkan mortal (walaupun dalam kekacauan yang dibuatnya tidak ada korban jiwa

Who or what do you hold dear? Yang paling ia jaga adalah kehidupan itu sendiri — entah itu manusia, elf, atau makhluk buatan. Ia juga masih menyimpan potongan sayap logam Felix, yang dia temukan di reruntuhan perang, sebagai pengingat: bahwa kasih dan kekerasan seringkali lahir dari tempat yang sama. Bagi Asep, itu adalah simbol harapan — harapan bahwa saudara yang hilang masih bisa diselamatkan.


Do you have any allies or enemies?

Asep memiliki dua figur penting dalam hidupnya yang paling memengaruhi jalan hidupnya:

Felix Quillon, saudara kembarnya — sekaligus musuh terbesarnya. Keduanya diciptakan bersama sebagai War-Seraph twins, senjata hidup yang dirancang untuk menegakkan kehendak ilahi. Namun ketika perang suci pecah, Felix memilih jalan kekerasan demi membalaskan dendam kematian ibu angkat mereka, Rem, ilmuwan sekaligus ibu angkat penyayang yang pernah merawat kedua “anak” ciptaannya yang tak sengaja ia bunuh demi melindungi mortal, namun Felix menolak fakta itu, menyalahkan para mortal dan lanjut membantai mortal demi membalaskan kematian ibu nya Sejak saat itu, Asep bersumpah akan mencari Felix bukan untuk membunuhnya, tapi untuk membuktikan bahwa jalan belas kasih yang diajarkan Rem masih bisa menyelamatkan dunia — dan mungkin, saudaranya sendiri.

Rem, ibu angkat sekaligus ilmuwan yang dahulu menciptakan dan membesarkan Asep serta Felix. Ia bukan hanya ilmuwan, tapi juga sosok yang menanamkan empati dalam hati keduanya. Ia percaya bahwa makhluk buatan pun bisa memiliki jiwa dan kasih sayang. Namun, dalam perang terakhir, Rem tewas dibunuh oleh Felix, yang menganggap kasih sayangnya adalah bentuk kelemahan yang menghalangi evolusi mereka.

Asep juga diburu oleh The Order of the Broken Halo, sekte rahasia yang memuja sisa-sisa War-Seraph sebagai utusan dewa baru. Bagi mereka, Asep adalah “yang tersisa dari langit,” sosok yang harus dipuja — sedangkan bagi Asep sendiri, mereka hanyalah cerminan gila dari perang lama yang ingin ia lupakan.


What is your relationship with the Bureau of Time and Plane?

Setelah menyelamatkan warga dari ledakan arcane core di distrik utara Neverwinter tanpa membunuh siapa pun, Asep menarik perhatian Bureau of Arcane Stability (BAS). Awalnya, ia dianggap ancaman — entitas magitek tak dikenal. Namun, setelah melihatnya menstabilkan reaktor magitek dengan mengorbankan sebagian energi inti tubuhnya, Bureau akhirnya merekrutnya sebagai penasihat teknis lapangan.

Dalam laporan resmi, insiden itu dikenal sebagai “The Lumina Core Incident.” Sejak saat itu, Asep diizinkan beroperasi bersama agen-agen Bureau untuk menangani ancaman yang berhubungan dengan teknologi Netheril atau sisa peninggalan perang surgawi.

Meski begitu, Bureau tidak tahu kebenaran: bahwa Asep adalah makhluk ilahi buatan yang seharusnya sudah punah. Di mata mereka, dia hanyalah orc penyendiri dengan senyum konyol dan kemampuan mekanik yang luar biasa.


What do you think of the gods?

Asep tidak membenci para dewa, tetapi juga tidak lagi mempercayai mereka. Menurutnya, mereka sama saja seperti para jenderal perang yang dulu menciptakan dirinya — memerintah dari atas, membiarkan makhluk di bawah mereka saling menghancurkan.

Namun kenangan tentang Rem, yang selalu mengajarinya untuk memahami kasih dan kehidupan, membuatnya tetap menghormati nilai-nilai ilahi tanpa harus menyembah para dewa. Baginya, cinta dan empati adalah bentuk ibadah tertinggi.

Dalam percakapan santai, Asep sering berkata sambil tersenyum getir:

“Rem dulu bilang, dewa nggak suka turun tangan karena takut ikut berdosa. Aku rasa mereka cuma takut kotorin tangan mereka sendiri. Tapi ya… mungkin mereka juga capek sama perang.”

Class Table#

Artificer#

Source: Tasha’s Cauldron of Everything p. 9, Eberron: Rising from the Last War p. 54

Spell Slots per Spell Level
LevelPBFeaturesInfusions Known^Optional features from [Artificer Infusion; defined in Tasha's Cauldron of Everything]Infused ItemsCantrips Known1st2nd3rd4th5th
1st+2Optional Rule: Firearm Proficiency, Magical Tinkering, Spellcasting22
2nd+2Infuse Item4222
3rd+2Artificer Specialist, The Right Tool for the Job4223
4th+2Ability Score Improvement4223
5th+3Artificer Specialist Feature42242
6th+3Tool Expertise63242
7th+3Flash of Genius63243
8th+3Ability Score Improvement63243
9th+4Artificer Specialist Feature632432
10th+4Magic Item Adept843432
11th+4Spell-Storing Item843433
12th+4Ability Score Improvement843433
13th+58434331
14th+5Magic Item Savant10544331
15th+5Artificer Specialist Feature10544332
16th+5Ability Score Improvement10544332
17th+6105443331
18th+6Magic Item Master126443331
19th+6Ability Score Improvement126443332
20th+6Soul of Artifice126443332

^class-progression

Bladesinging#

Wizard: Arcane Tradition
Source: Tasha’s Cauldron of Everything p. 76, Sword Coast Adventurer’s Guide p. 141

LevelPBFeatures
1st+2
2nd+2Bladesinging
3rd+2
4th+2
5th+3
6th+3Extra Attack
7th+3
8th+3
9th+4
10th+4Song of Defense
11th+4
12th+4
13th+5
14th+5Song of Victory
15th+5
16th+5
17th+6
18th+6
19th+6
20th+6

^class-progression

Statblock#